Selasa, 04 Agustus 2026

EFESUS 4 : 7 – 16 TOGU MARSITIOPAN TU HATIGORAN

 

BAHAN SERMON EVANGELIUM MINGGU XII DUNG TRINITATIS

TOPIK : TOGU MARSITIOPAN TU HATIGORAN

23 AGUSTUS 2026

EFESUS 4 : 7 – 16

NHKBP MADUMA PANGKALAN KERINCI
 

A.Pendahuluan

 

Di dalam kehidupan ini, kita akan selalu diperhadapkan dengan keberagaman. Setiap hari kita mendengar begitu banyak pendapat, ajaran, motivasi, bahkan tafsiran tentang iman. Media sosial, berita, video rohani, khotbah online - semuanya berbicara. Di tengah banyaknya suara itu, pasi akan muncul satu pertanyaan penting yaitu: mana yang benar? Tidak sedikit orang percaya menjadi bingung. Hari ini percaya satu hal, besok berubah lagi. Iman menjadi mudah goyah karena tidak berakar kuat. Situasi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Jemaat mula-mula juga mengalaminya. Ketika Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Efesus, mereka hidup di tengah kota besar yang penuh penyembahan berhala dan pengajaran yang beragam. Kota itu terkenal dengan Kuil Artemis, pusat penyembahan dewi Artemis, dan berbagai praktik keagamaan serta filsafat yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Di tengah kondisi seperti itu, jemaat Efesus bisa saja kehilangan arah. Mereka bisa saja terpecah, merasa diri paling benar, atau justru ikut terbawa arus pengajaran yang menyimpang. Oleh sebab itulah dalam pasal 4 ini, Paulus menegaskan bahwa setiap orang percaya telah menerima kasih karunia. Setiap orang memiliki bagian dalam tubuh Kristus. Tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar  aktif, bukan sekadar banyak kegiatan, melainkan  bertumbuh  menuju  kedewasaan  rohani.  Paulus memperingatkan agar jemaat  .

Dan di tengah nasihat itu, muncul satu kalimat yang sangat penting yang menjadi topik Minggu: “Kita harus teguh berpegang pada kebenaran di dalam kasih.” Inilah inti pesan hari ini. Teguh berpegang pada kebenaran berarti tidak kompromi dengan dosa. Karena itu yang sering terjadi, kompromi akan dosa. Membenarkan kebiasaan, bukan membiasakan yang benar. Tetapi kalau kita berpegang dalam kasih berarti kita tetap rendah hati, tidak kasar, tidak sombong, dan tidak menghakimi. Kebenaran tanpa kasih bisa melukai. Kasih tanpa kebenaran bisa menyesatkan, tetapi kebenaran di dalam kasih akan membawa pertumbuhan, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran sesat karena bertumbuh bersama menuju Kristus sebagai Kepala.

 

B.Penjelasan Nats

·       Ia memberikan karunia kepada setiap orang percaya untuk membangun gereja (7-10)

Kalau berbicara mengenai Kristus sang kepala gereja, kata "Kepala", biasanya langsung meunju kepada kata  pusat kendali. Seperti sebuah tubuh yang tanpa kepala tidak akan memiliki arah, demikian pula gereja tanpa Kristus hanyalah sebuah organisasi sosial biasa. Namun, seringkali tantangan zaman membuat "tubuh" ini kehilangan sinkronisasi dengan "Kepalanya". Kita mudah goyah oleh rupa-rupa pengajaran atau standar dunia. Untuk memahami mengapa keteguhan kita pada kebenaran sangat bergantung pada pengakuan bahwa Kristus adalah satu-satunya otoritas tertinggi dan segala sesuatu dalam gereja berasal dari Kristus. Rasul Paulus menegaskan bahwa setiap orang percaya menerima kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.tidak ada anggota gereja yang tidak memiliki peran, karena setiap anggota tubuh memiliki peran masing-masing.

Gereja bukan dibangun oleh kekuatan manusia, melainkan oleh anugerah Kristus sendiri. Paulus juga menjelaskan bahwa Kristus telah turun dan telah naik. Merendahkan diriNya, mati, bangkit, dan dimuliakan. Ia bukan sekadar tokoh sejarah atau guru moral. Ia menang dan berkuasa atas segala sesuatu. Dialah Kepala gereja. Jika Kristus adalah Kepala, maka gereja tidak boleh kehilangan arah. Gereja tidak boleh mengikuti suara dunia lebih daripada suara Tuhan. Gereja dipanggil untuk teguh berpegang pada kebenaran, karena kebenaran itu berasal dari Kristus sendiri. Tanpa Kristus sebagai Kepala, gereja akan mudah terpecah. Tanpa berpegang pada kebenaran, gereja akan mudah terombang-ambing oleh berbagai pengaruh zaman. Tetapi ketika gereja tunduk kepada Kristus dan setia pada firman-Nya, maka gereja akan tetap kuat, bertumbuh, dan menjadi terang di tengah dunia. Apakah Kristus sungguh menjadi Kepala dalam hidup kita? Apakah kita sungguh berdiri teguh dalam kebenaran-Nya?

 

·       Kedewasaan  rohani dicapai dengan berpegang pada kebenaran dalam kasih, yang dari Kristus (ay. 11-16).

Setiap orang tentu menginginkan pertumbuhan. Anak-anak bertumbuh menjadi dewasa. Tanaman bertumbuh menjadi kuat dan berbuah. Tetapi bagaimana dengan iman kita? Apakah iman kita juga bertumbuh? Ataukah kita masih mudah tersinggung, mudah goyah, dan mudah terpengaruh? Ayat 11-16 mengajak dan berbicara tentang satu tujuan penting dalam kehidupan orang percaya, yaitu kedewasaan rohani. Rasul Paulus menjelaskan bahwa Kristus memberikan pelayan-pelayan dalam gereja untuk memperlengkapi jemaat, supaya tubuh Kristus dibangun dan bertumbuh menuju kedewasaan penuh. Kedewasaan rohani bukan soal lamanya kita menjadi orang Kristen. Bukan juga soal jabatan pelayanan. Kedewasaan rohani terlihat ketika kita tidak lagi seperti anak- anak yang terombang-ambing oleh rupa-rupa angin pengajaran.

Kedewasaan rohani terlihat ketika kita memiliki pendirian yang teguh dalam kebenaran. Namun Paulus tidak berhenti pada kata “kebenaran” saja. Ia berkata, kita harus berpegang kepada kebenaran di dalam kasih. Di sinilah keseimbangannya. Kebenaran tanpa kasih bisa menjadi keras dan melukai. Kasih tanpa kebenaran bisa menjadi kompromi dan menyesatkan. Tetapi ketika kebenaran dan kasih berjalan bersama, di situlah pertumbuhan terjadi. Hari ini kita diajak untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sedang bertumbuh? Apakah kita semakin serupa Kristus? Apakah kita menyatakan kebenaran dengan kasih? Kiranya melalui firman Tuhan ini, Roh Kudus menuntun kita untuk tidak berhenti pada iman yang kanak-kanak, tetapi melangkah menuju kedewasaan rohani dengan tetap teguh berpegang pada kebenaran dalam kasih.

Aplikasi

·       Gunakan karuniamu : pergunakan karunia untuk kemuliaan nama Tuhan. Tuhan berikan karunia bukan untuk menyombongkannya, tetapi untuk membantu orang yang di sekitar kita. Seperti tubuh yang memiliki banyak anggota tubuh, dan semua bagian memiliki fungsi dan peran masing-masing. Pergunakan untuk membangun tubuh Kristus dan melayani jemaat Kristus. Dan bersatulah. Bersatu  bukan  berarti menghilangkan keunikan kepribadian setiap orang dan juga bukan berarti meleburkan diri dalam sebuah komunitas sehingga kehilangan jati diri.

·       Kristus Adalah Kepala: Sentralitas Kristus harus terlihat jelas: menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, setiap hari dibarui dalam roh dan pikiran.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar