JAMITA MINGGU XX DUNG
TRINITATIS
“Debata Do Manjou Jala Mamillit Hamu”
2 PETRUS 1::3-11
1.
PENDAHULUAN
Kitab 2 Petrus adalah
surat yang ditulis oleh Simon Petrus, salah satu murid Yesus (1 : 1). Surat ini
ditujukan kepada orang percaya yang ada di Asia Kecil yang telah menerima
suratnya yang pertama. Tujuan Petrus menyampaikan surat ini adalah agar mereka
dengan tekun mengejar kesalehan dan pengenalan yang benar akan Kristus. Selain
itu Petrus juga ingin menolak dan menentang tindakan para nabi palsu di
kalangan gereja Asia Kecil yang mencoba meruntuhkan kebenaran Injil. Petrus
menasihatkan agar orang percaya senantiasa waspada supaya mereka tidak terseret
masuk dalam dalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum. Selain itu,
Petrus menginginkan agar mereka bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam
pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat, Yesus Kristus. Khusus dalam pasal 3 ini,
Petrus menentang keraguan para nabi palsu akan kedatangan Kristus yang kedua
kalinya dan memastikan bahwa Yesus akan datang untuk keduakalinya untuk
mengadakan penghakiman kepada segenap umat manusia. Petrus memaparkan gambaran
suasana di mana hari Tuhan itu akan terjadi. Petrus tidak hanya memberi
penjelasan kepada mereka, namun sekaligus mempersiapkan segenap orang percaya
untuk mengambil sikap yang benar di hadapan Tuhan. Mereka harus mengalami
pertobatan yang sungguh-sungguh dipanggil dan dipilih supaya mereka beroleh
hidup dan melihat langit baru dan bumi baru yang penuh sukacita.
2.
PENJELASAN
TEKS
Ayat 1-7 Setia pada panggilan.
Petrus membuka bagian ini dengan pernyataan yang
menegaskan fondasi iman Kristen bahwa “kuasa Ilahi-Nya telah menganugerahkan
kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh” (ayat 3). Hidup
saleh bukan sekadar ketaatan moral atau kesungguhan menjalankan ritual
keagamaan, melainkan cara hidup yang seluruh arahnya tertuju kepada Allah.
Kesalehan menunjuk pada hidup yang selaras dengan kehendak-Nya dalam seluruh
aspek kehidupan. Karena itu, tidak ada alasan bagi orang percaya untuk merasa
tidak mampu atau kekurangan bekal rohani, sebab Allah sendiri telah menyediakan
segala yang diperlukan. Mengenal Allah bukan hanya soal mengetahui siapa Dia,
tetapi tentang hidup yang terus dibentuk dan diarahkan oleh kehadiran-Nya.
Inilah dasar transformasi iman: Allah terlebih dahulu bertindak, lalu manusia
merespons dalam ketaatan dan pertumbuhan.
Selanjutnya, ketika Petrus berbicara tentang janji-janji Allah yang besar
dan berharga, sehingga orang percaya “mengambil bagian dalam kodrat Ilahi”
(ayat 4), ia sedang menjelaskan arah hidup baru orang Kristen. Kita diminta
untuk hidup yang mencerminkan karakter Allah dalam relasi sehari-hari. Arah
hidup yang dahulu dikuasai oleh hawa nafsu kini dituntun oleh nilai-nilai
Kerajaan Allah. Karena itu, iman yang sungguh-sungguh dikenal di hadapan Allah
akan terlihat dalam cara kita hidup dan memperlakukan sesama.
Berangkat dari dasar inilah Petrus mengajak jemaat untuk bertumbuh secara
aktif (ayat 5–7). Iman tidak pernah berdiri sendiri. Iman menuntut pertumbuhan
yang berkelanjutan. Petrus menggambarkan iman seperti fondasi bangunan yang
harus ditopang oleh kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan,
kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih. Urutan ini bukan daftar acak,
melainkan gambaran proses pendewasaan iman. Iman yang sejati akan membentuk
cara berpikir, cara mengendalikan diri, cara bertahan dalam penderitaan, dan
akhirnya cara mengasihi sesama. Kasih menjadi puncaknya karena kasih adalah
tujuan akhir dari seluruh pertumbuhan rohani dan cerminan paling utuh dari
karakter Allah sendiri.
Ayat 8-9 Waktu Tuhan berbeda dengan waktu manusia.
Petrus
mengingatkan agar orang percaya tidak perlu larut menghitung-hitung hari untuk
menentukan kapan Tuhan Yesus datang untuk keduakalinya. Karena
kedatangan Tuhan itu tidak dapat diperhitungkan atau diprediksi dengan
perhitungan hari-hari manusia, juga Tuhan tidak lalai akan tetapi sebagai bukti
kesabaran supaya banyak orang mendengarkan panggilan dan bertobat. Sesungguhnya
di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama
seperti satu hari. Artinya, bahwa waktu Tuhan tidak bisa diprediksi dan
bukanlah batasan seperti perhitungan manusia, pekerjaan seribu tahun bagi
manusia dapat dia selesaikan dalam satu hari, dan sebaliknya, Dia bisa
mengambil waktu seribu tahun untuk mengerjakan sesuatu yang sebenarnya selesai
dalam satu hari. Allah bisa saja menjadikan hari itu sebagai hari-Nya, namun Ia
masih sabar terhadap umat-Nya. Ia menghendaki agar tidak ada umat-Nya yang
binasa, sehingga Dia memanggil dan memilih umatNya untuk tetap dalam kesiapan.
Ayat. 10 – 13 menanti dengan pengharapan.
Hari Tuhan pasti
tiba dan kedatanganTuhan itu akan benar-benar menyentak semua orang. Petrus
menggambarkan-Nya seperti kedatangan pencuri dalam arti bukan untuk menakuti
tetapi mendorong kita akan kesiapan dalam segala kondisi. Tentu pencuri
biasanya datang ketika semua orang terlelap menikmati tidurnya, demikian Allah
akan datang dengan tiba-tiba saat manusia menikmati hidupnya. Yang menikmati
hidup dalam Tuhan akan bersukacita, sementara orang yang masih asik menikmati
hidup dalam kesibukan dan dosa-dosanya akan tersentak karena tidak ada lagi
waktu kedua kalinya untuk berbalik dan bertobat. Yang ada adalah hukuman kekal
yang akan menyiksanya. Hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat
dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api dan bumi dan segala yang ada
di atasnya akan lenyap. Untuk itu Petrus mengajarkan agar mereka tetap
mempertahankan kesucian dan kesalehan hidup mereka selama masa penantian Tuhan
datang. Hidup orang percaya harus dipusatkan pada Allah dan pengharapan akan
menerima hidup baru di dalam-Nya. Kedatangan Tuhan yang diibaratkan sebagai
pencuri juga diungkapkan oleh Paulus, “karena kamu sendiri tahu benar-benar,
bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam” (1 Tes 5 : 2,Wahyu 3
:3) “Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya;
turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga,
Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah
Aku tiba-tiba datang kepadamu .
3.
APLIKASI
Firman ini menjadi sangat relevan
ketika kita mengaitkannya dengan tema Pelayanan HKBP tahun 2026, “Transformasi:
Pengajaran Iman di Tengah Keluarga.” Pertumbuhan iman dapat dibentuk dalam relasi sehari-hari,
terutama di dalam keluarga. Keluarga adalah tempat pertama di mana iman
diajarkan dan dicontohkan. Nilai-nilai seperti penguasaan diri, ketekunan,
kesalehan, dan kasih tidak cukup diajarkan secara verbal, tetapi harus dihidupi
melalui teladan. Dengan demikian, hidup dalam panggilan dan pemilihan Allah
berarti hidup yang terus bertumbuh. Kita tidak diselamatkan oleh perbuatan
baik, tetapi kita dipanggil untuk menghasilkan buah sebagai bukti dari
keselamatan itu. Seperti yang ditegaskan dalam Efesus 2:10, kita diciptakan di
dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah.
Kiranya setiap langkah hidup kita menjadi kesaksian yang nyata bahwa anugerah
Allah sungguh bekerja dan terus membentuk kita. Inilah dasar transformasi iman:
Allah terlebih dahulu bertindak, lalu manusia merespons dalam ketaatan dan
pertumbuhan.Amin
CBvr.
Laura Butarbutar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar