Kamis, 22 Oktober 2026

 


JAMITA MINGGU XX DUNG  TRINITATIS

“Debata Do Manjou Jala Mamillit Hamu”

2 PETRUS 1::3-11

1.     PENDAHULUAN

Kitab 2 Petrus adalah surat yang ditulis oleh Simon Petrus, salah satu murid Yesus (1 : 1). Surat ini ditujukan kepada orang percaya yang ada di Asia Kecil yang telah menerima suratnya yang pertama. Tujuan Petrus menyampaikan surat ini adalah agar mereka dengan tekun mengejar kesalehan dan pengenalan yang benar akan Kristus. Selain itu Petrus juga ingin menolak dan menentang tindakan para nabi palsu di kalangan gereja Asia Kecil yang mencoba meruntuhkan kebenaran Injil. Petrus menasihatkan agar orang percaya senantiasa waspada supaya mereka tidak terseret masuk dalam dalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum. Selain itu, Petrus menginginkan agar mereka bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat, Yesus Kristus. Khusus dalam pasal 3 ini, Petrus menentang keraguan para nabi palsu akan kedatangan Kristus yang kedua kalinya dan memastikan bahwa Yesus akan datang untuk keduakalinya untuk mengadakan penghakiman kepada segenap umat manusia. Petrus memaparkan gambaran suasana di mana hari Tuhan itu akan terjadi. Petrus tidak hanya memberi penjelasan kepada mereka, namun sekaligus mempersiapkan segenap orang percaya untuk mengambil sikap yang benar di hadapan Tuhan. Mereka harus mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh dipanggil dan dipilih supaya mereka beroleh hidup dan melihat langit baru dan bumi baru yang penuh sukacita.

2.     PENJELASAN TEKS

Ayat 1-7 Setia pada panggilan.

Petrus membuka bagian ini dengan pernyataan yang menegaskan fondasi iman Kristen bahwa “kuasa Ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh” (ayat 3). Hidup saleh bukan sekadar ketaatan moral atau kesungguhan menjalankan ritual keagamaan, melainkan cara hidup yang seluruh arahnya tertuju kepada Allah. Kesalehan menunjuk pada hidup yang selaras dengan kehendak-Nya dalam seluruh aspek kehidupan. Karena itu, tidak ada alasan bagi orang percaya untuk merasa tidak mampu atau kekurangan bekal rohani, sebab Allah sendiri telah menyediakan segala yang diperlukan. Mengenal Allah bukan hanya soal mengetahui siapa Dia, tetapi tentang hidup yang terus dibentuk dan diarahkan oleh kehadiran-Nya. Inilah dasar transformasi iman: Allah terlebih dahulu bertindak, lalu manusia merespons dalam ketaatan dan pertumbuhan.

Selanjutnya, ketika Petrus berbicara tentang janji-janji Allah yang besar dan berharga, sehingga orang percaya “mengambil bagian dalam kodrat Ilahi” (ayat 4), ia sedang menjelaskan arah hidup baru orang Kristen. Kita diminta untuk hidup yang mencerminkan karakter Allah dalam relasi sehari-hari. Arah hidup yang dahulu dikuasai oleh hawa nafsu kini dituntun oleh nilai-nilai Kerajaan Allah. Karena itu, iman yang sungguh-sungguh dikenal di hadapan Allah akan terlihat dalam cara kita hidup dan memperlakukan sesama.

Berangkat dari dasar inilah Petrus mengajak jemaat untuk bertumbuh secara aktif (ayat 5–7). Iman tidak pernah berdiri sendiri. Iman menuntut pertumbuhan yang berkelanjutan. Petrus menggambarkan iman seperti fondasi bangunan yang harus ditopang oleh kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih. Urutan ini bukan daftar acak, melainkan gambaran proses pendewasaan iman. Iman yang sejati akan membentuk cara berpikir, cara mengendalikan diri, cara bertahan dalam penderitaan, dan akhirnya cara mengasihi sesama. Kasih menjadi puncaknya karena kasih adalah tujuan akhir dari seluruh pertumbuhan rohani dan cerminan paling utuh dari karakter Allah sendiri.

Ayat 8-9 Waktu Tuhan berbeda dengan waktu manusia.

Petrus mengingatkan agar orang percaya tidak perlu larut menghitung-hitung hari untuk menentukan kapan Tuhan Yesus datang untuk keduakalinya. Karena kedatangan Tuhan itu tidak dapat diperhitungkan atau diprediksi dengan perhitungan hari-hari manusia, juga Tuhan tidak lalai akan tetapi sebagai bukti kesabaran supaya banyak orang mendengarkan panggilan dan bertobat. Sesungguhnya di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Artinya, bahwa waktu Tuhan tidak bisa diprediksi dan bukanlah batasan seperti perhitungan manusia, pekerjaan seribu tahun bagi manusia dapat dia selesaikan dalam satu hari, dan sebaliknya, Dia bisa mengambil waktu seribu tahun untuk mengerjakan sesuatu yang sebenarnya selesai dalam satu hari. Allah bisa saja menjadikan hari itu sebagai hari-Nya, namun Ia masih sabar terhadap umat-Nya. Ia menghendaki agar tidak ada umat-Nya yang binasa, sehingga Dia memanggil dan memilih umatNya untuk tetap dalam kesiapan.

Ayat. 10 – 13 menanti dengan pengharapan.

 Hari Tuhan pasti tiba dan kedatanganTuhan itu akan benar-benar menyentak semua orang. Petrus menggambarkan-Nya seperti kedatangan pencuri dalam arti bukan untuk menakuti tetapi mendorong kita akan kesiapan dalam segala kondisi. Tentu pencuri biasanya datang ketika semua orang terlelap menikmati tidurnya, demikian Allah akan datang dengan tiba-tiba saat manusia menikmati hidupnya. Yang menikmati hidup dalam Tuhan akan bersukacita, sementara orang yang masih asik menikmati hidup dalam kesibukan dan dosa-dosanya akan tersentak karena tidak ada lagi waktu kedua kalinya untuk berbalik dan bertobat. Yang ada adalah hukuman kekal yang akan menyiksanya. Hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan lenyap. Untuk itu Petrus mengajarkan agar mereka tetap mempertahankan kesucian dan kesalehan hidup mereka selama masa penantian Tuhan datang. Hidup orang percaya harus dipusatkan pada Allah dan pengharapan akan menerima hidup baru di dalam-Nya. Kedatangan Tuhan yang diibaratkan sebagai pencuri juga diungkapkan oleh Paulus, “karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam” (1 Tes 5 : 2,Wahyu 3 :3) “Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu .

3.     APLIKASI

Firman ini menjadi sangat relevan ketika kita mengaitkannya dengan tema Pelayanan HKBP tahun 2026, “Transformasi: Pengajaran Iman di Tengah Keluarga.” Pertumbuhan iman dapat dibentuk dalam relasi sehari-hari, terutama di dalam keluarga. Keluarga adalah tempat pertama di mana iman diajarkan dan dicontohkan. Nilai-nilai seperti penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, dan kasih tidak cukup diajarkan secara verbal, tetapi harus dihidupi melalui teladan. Dengan demikian, hidup dalam panggilan dan pemilihan Allah berarti hidup yang terus bertumbuh. Kita tidak diselamatkan oleh perbuatan baik, tetapi kita dipanggil untuk menghasilkan buah sebagai bukti dari keselamatan itu. Seperti yang ditegaskan dalam Efesus 2:10, kita diciptakan di dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah. Kiranya setiap langkah hidup kita menjadi kesaksian yang nyata bahwa anugerah Allah sungguh bekerja dan terus membentuk kita. Inilah dasar transformasi iman: Allah terlebih dahulu bertindak, lalu manusia merespons dalam ketaatan dan pertumbuhan.Amin

 

 

                                                                                                                                    CBvr. Laura Butarbutar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar