BAHAN SERMON
EVANGELIUM XXI DUNG TRINITATIS
MINGGU 25
OKTOBER 2026
Zefanya 3 : 9 –
15
A. Pendahuluan
Kitab Zefanya ini diawali pada bagian awal
dengan kesedihan. Dalam
kitab
ini terdapat perjalanan peristiwa yang
melibatkan bencana
bagi bangsa itu sendiri,
yang juga diikuti oleh bencana
bagi negara asing. Kitab ini ialah kitab yang menyajikan pernyataan paling luas dalam
Perjanjian Lama mengenai “Hari Tuhan” yang akan datang. Kitab ini juga memberikan ajaran secara terperinci mengenai kaum sisa yang masih setia
yang akan dipulihkan pada hari lawatan Tuhan. Pada pasal ini jelas terlihat terdapat janji
yang diberikan Zefanya secara
individu janji tersebut
merupakan janji pemulihan. Janji pemulihan/Janji Keselamatan tersebut
dapat terlihat
bahwa dikatakan pada pasal
ke-3
ayat 14-15 yang berisi
bahwa Tuhan berjanji kepada umat-Nya untuk melakukan pemulihan besar dengan cara menghakimi kembali bangsa-bangsa
tersebut.
Bangsa ini harus harus dapat melakukan apa yang
telah disepakati dalam janji pemulihan
atau janji keselamatan tersebut. Tuhan
bukan hanya mengampuni umat-Nya, tetapi memulihkan mereka dan kembali hadir di
tengah-tengah mereka.
B. Penjelasan Nats
Pasal 3:9-15 merupakan titik balik. Allah
menunjukkan bahwa tujuan akhir dari penghukuman-Nya bukanlah kehancuran total, melainkan pemurnian agar
sisa-sisa bangsa itu dapat menyembah-Nya dengan tulus.
Ayat 9 Tuhan berjanji memberi “bibir yang bersih/dila
na pita” bagi semua bangsa agar mereka memanggil nama-Nya dan beribadah bersama-sama. Bibir yang bersih” bukan sekadar berbicara
mengenai perkataan yang lebih baik. Ini menggambarkan manusia yang telah
dipulihkan sehingga dapat memanggil nama Tuhan dan beribadah kepada-Nya
dengan benar. Di era media
sosial,
"bibir" kita sering tercemar
oleh hoaks, ujaran kebencian. Tuhan memanggil jemaat
untuk melakukan detoksifikasi/pembersihan kata- kata.
Persatuan jemaat
masa kini bukan hanya duduk
bersama di bangku gereja, tapi
"bahu-membahu" melayani tanpa memandang
perbedaan status. Tuhan mau merubah hati kita dan diri
kita terlebih dahulu.
Kadang-kadang kita meminta Tuhan mengubah keadaan:
“Tuhan, ubahlah keluarga saya.”
“Tuhan, ubahlah pekerjaan saya.”
“Tuhan, ubahlah orang-orang di sekitar saya.”
Tetapi Tuhan terlebih dahulu ingin mengubah dari dalam diri kita. Sebab
masalah terbesar manusia bukan selalu keadaan di luar dirinya, tetapi hati yang
belum sungguh-sungguh kembali kepada Tuhan.
Ayat 10 Orang-orang penyembah Tuhan dari Etiopia (ujung bumi)
membawa persembahan, melambangkan inklusi etnis terjauh dalam ibadah
Yerusalem. Etiopia
adalah
simbol jarak terjauh yang bisa dibayangkan orang
kuno. Ini menunjukkan bahwa Tuhan mencari mereka yang terhilang
dan jauh. Ini adalah kritik bagi gereja yang
eksklusif atau hanya mementingkan kelompoknya
sendiri. Konteks hari ini:
Tuhan juga hadir bagi mereka yang merasa “terserak”, mereka yang
terpinggirkan secara ekonomi,
penyandang disabilitas, atau mereka
yang merasa tidak layak datang ke
gereja.
Ayat 11-13: Tuhan
menyisakan
umat
rendah hati
yang
mencari
perlindungan-Nya; sisa Israel tak lagi berbuat jahat atau bohong, seperti
domba damai tanpa
gangguan, menekankan pertobatan total pasca-
hukuman. Di ayat 11, dikatakan
bahwa Tuhan akan menyingkirkan orang-orang yang angkuh dan sombong. Dia juga bertindak tegas terhadap kesombongan
spiritual (merasa lebih suci
dari orang lain). Manusia
modern sering menyembunyikan “malu” di balik topeng
kesuksesan atau narsisme. Tuhan menawarkan pemulihan
yang jujur. Kita diajak
untuk menanggalkan “ego spiritual/kesombongan rohani”, perasaan bahwa berkat Tuhan adalah hasil
kerja keras atau kesalehan kita sendiri. Di dunia yang
memuja kekuatan, kekayaan, dan kemandirian mutlak, ayat ini adalah kontradiksi yang sehat. Menjadi “lemah” di hadapan
Tuhan berarti
mengakui bahwa kita butuh anugerah. Tuhan
mengingatkan bahwa yang Dia kehendaki bukan sekadar aktivitas keagamaan,
tetapi hati yang rendah di hadapan-Nya. Ayat 13 artinya pemulihan dari
Tuhan bukan hanya membuat seseorang merasa lebih baik, tetapi
menghasilkan kehidupan yang berbeda dan lebih baik.
Ayat 14 ajakan bersorak
sorai bagi Sion/Israel karena pemulihan, mengajak
sukacita penuh
hati meskipun musuh
masih mengintai,
simbol harapan
di tengah penderitaan.
Dalam
ayat ini perintah untuk bersukacita ini
diberikan saat kondisi fisik Yerusalem
mungkin belum sepenuhnya
pulih, namun kepastian janji Allah sudah ada. Sukacita umat Tuhan ditentukan
oleh
kepastian bahwa kita adalah milik Tuhan. Ini
adalah
sukacita "meskipun", bukan sukacita "karena".
Tuhan Sendiri Adalah alas an terbesar untuk bersukacita.
Ayat 15 menyatakan
bahwa Tuhan ada di tengah-tengah mereka. Tuhan menyingkirkan hukuman, membinasakan musuh, dan hadir sebagai Raja Israel,
sehingga “engkau tidak akan takut
malapetaka
lagi”,
janji keamanan abadi melalui
kehadiran-Nya. Dalam ayat ini, fokus beralih dari hukuman ke kehadiran Sang Raja. Jika Raja ada
di tengah, maka musuh tidak punya
kuasa lagi. Itulah yang paling ddibutuhkan manusia, bukan
hanya berkat Tuhan tetapi kehadiran Tuhan. Bagi manusia modern yang dihantui kecemasan (anxiety) akan masa depan, ayat ini
memberikan
jangkar. Ketakutan akan “malapetaka” (penyakit, resesi, kematian)
dipatahkan oleh
fakta bahwa Tuhan ada di antaramu (Imanuel). Jangan hanya meminta Tuhan berikan saya
berkat, tetapi mintalah Tuhan tetaplah Bersama saya. Karena kalau Tuhan hadir,
ia akan datang dengan penyertaan-Nya dan berkat-Nya.
C. Aplikasi
Teks Zefanya 3:9-15 menegaskan
bahwa mencari perlindungan
pada nama Tuhan bukanlah tindakan pasif, melainkan sebuah
transformasi spiritual yang mendalam. Perlindungan
ini diawali dengan pembersihan
diri (bibir yang murni), di
mana umat meninggalkan
berhala dan keangkuhan
untuk bergantung sepenuhnya kepada
Allah. Tuhan
secara khusus memilih
“umat
yang rendah dan lemah” sebagai
objek perlindungan-Nya dan sebuah pengingat bahwa hanya mereka yang rendah dan melepaskan sisa-sisa
kesombongan yang dapat
merasakan
keamanan sejati di bawah naungan-Nya. Jadi, keamanan terbesar orang
percaya bukan karena tidak ada masalah, tetapi karena Tuhan hadir di tengah
masalah.
Tuhan tidak
hanya ingin “memperbaiki” kehidupan kita dari luar. Tuhan ingin: membersihkan
hati kita, merendahkan hati dari kesombongan kita karena kesombongan menjauhkan
kita dari Tuhan, tetapi kerendahan hati membuat kita bergantung kepada-Nya,
memulihkan kehidupan kita, dan tinggal di tengah-tengah kita. Secara kontekstual, berlindung pada nama Tuhan berarti hidup dalam integritas moral (tidak melakukan kefasikan) dan merayakan
kehadiran Allah sebagai
Raja di tengah-tengah kehidupan.
Tuhan ingin memurnikah hati kita, bukan hanya keadaan yang mau Tuhan rubah,
tetapi hati kita. Ketika hukuman
disingkirkan dan Tuhan hadir sebagai pembela,
ketakutan akan malapetaka pun lenyap.
Dengan demikian, mencari perlindungan pada nama Tuhan adalah langkah iman untuk menyelaraskan hidup dengan karakter-Nya yang kudus, sehingga
kita tidak lagi mengandalkan kekuatan duniawi, melainkan menemukan
keamanan absolut
dalam penyertaan-Nya yang nyata.
“Mungkin hari ini keadaan kita belum berubah. Masalah kita
mungkin masih ada atau masih banyak. Pergumulan kita mungkin seperti tak ada
habisnya. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan: Tuhan tidak
meninggalkan kita. Sebab Raja kita, Tuhan, ada di tengah-tengah kita. Karena
itu, bersukacitalah dan tetaplah berharap.”Amin.
C.Pdt.Novita
Maranata Silalahi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar