SINTUA DI HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN (HKBP)
(Oleh: , Pdt Dr Jamilin Sirait) Sumber : siranaorg.wordpress.com
Pengantar
1. Di dalam Alkitab ada beberapa istilah yang dipergunakan untuk pelayan
jemaat yakni: pertama, presbuteros (diterjemahkan dengan penatua).
Istilah ini tertulis di dalam Luk. 22:66; Kiss. 14:23; 22:5; 1 Tim.4:14;
5:19; Tit.1:5. Tertulis juga di 2 Yoh. 1:1 tetapi diterjemahkan ke
bahasa Bibel Batak menjadi “naposo niJ esus Kristus”, Alkitab bahasa
Indonesia menjadi penatua. Juga 3 Joh. 1:1 dengan terjemahan yang sama.
Dalam 1 Petrus 5:1 diterjemahkan menjadi “Sintua” atau penantua.
Istilah kedua adalah episkopos (diterjemahkan dengan gembala, penilik,
pemelihara – Batak: simatamatai, parmahan, sintua. Kita lihat misalnya
dalam Fil.1:1, Alkitab: penilik, Bibel: sintua. Di Titus 1:7, kata
episkopos diterjemahkan ke Bibel Batak: Sintua; Alkitba: pengatur rumah
Allah. Ketiga adalah poimonos artinya gembala. Tetapi kata ini sering
digandengankan dengan episkopos, 1 Pet.2:25. Dalam Kissah Rasul 20:28,
istilah poimonos diterjemahkan dengan “simatamatai” atau penilik. Kata
yang keempat adalah: diakonos (diterjemahkan dengan diaken, yang pada
umumnya melakukan pelayanan diakonia). Dalam Fil. 1: 1 dipergunakan
istilah diaken (Alkitab), pangurupi (Bibel Batak). Di dalam Efesus 4:11
disebutkan juga istilah rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita Injil dan
pengajar, tetapi jabatan-jabatan ini kurang diterapkan dalam
jemaat-jemaat mula-mula.
2. Pada awalnya, ketika para pengikuti Yesus bersekutu dan bersaksi
tentang salib dan kebangkitan Yesus Kristus, Roh Kudus turun ke atas
Petrus dan para rasul itu, kemudian mereka berbicara dalam bahasa Roh
kepada semua orang yang hadir dalam perayaan Paskah di Yerusalem (Kiss.
2:1-40). Pengorganisasian belum dibutuhkan pada jemaat mula-mula di
Yerusalem. Para pengikut Yesus yang berada di Yerusalem masih mengikuti
system yang terdapat di agama Yahudi waktu itu, antara lain: ibadah pada
hari Sabbath, tradisi ke-Yahudian diteruskan, dsb.
3. Pada masa rasul-rasul pertama itu, Injil Kristus sudah menyebar ke
luar Yerusalem, misalnya ke Samaria. Perubahan besar terjadi sejak
Paulus bertobat dari penganut agama Yahudi yang sangat saleh (bahkan
seorang yang sangat mendalami agamanya) menjadi pengikut Yesus Kritus
dalam perjalanannya ke Damsyik untuk menganiaya orang-orang Kristen.
Paulus menyebarkan Injil keluar dari batas-batas Palestina menuju ke
Asia kecil hingga ke Eropah. Dalam siding para rasul di Yerusalem (Kiss.
15), Paulus bersama-sama dengan beberapa orang diutus untuk
memberitakan Injil ke Antiokhia dan daerah-daerahnya lainnya. Dalam
waktu yang sangat singkat, Injil itu diberitakan ke berbagai penjuru:
Efesus, Korintus, Filipi, Roma, dan sebagainya. Jemaat-jemaat Kristen
yang baru terbentuk di berbagai kota di Asia keci. Seiring dengan
pertumbuhan jemaat-jemaat baru itu, diperlukan para pemimpin atau
pelayan yang dipercayakan memimpin jemaat, mengatur pelayanan,
meneruskan pemberitaan Injil Kristus di dalam jemaat (berkhotbah),
bahkan melawan pengajar-pengajar sesat atau guru-guru palsu yang
bertumbuh di sekitar jemaat (1 Tim. 3:1-7, 8-13 ).
4. Pendalaman pelayan jemaat tentang Injil tentu masih sederhana.
Pengakuan iman yang diucapkan untuk menerima baptisan pun masih
sederhana, yakni: Yesus Kristus adalah Tuhan. Orang-orang Kristen
berlatar-belakang Yahudi memiliki pandangan yang berbeda dengan
orang-orang Kristen yang bukan Yahudi, misalnya pandangan tentang
pelaksanaan Taurat, tentang makanan dan lain-lain. Perbedaan
latar-belakang ini sering menimbulkan persoalan baru di dalam jemaat,
sehingga persekutuan terganggu. Maka untuk membimbing jemaat tetap
mempertahankan imannya menghadapi para pengajar sesat dan bagaimana
seharusnya setiap orang saling menerima walaupun berbeda latar-belakang
(Roma 3:1-8; 7:1-12; 14:1-23), Paulus menuliskan pedoman-pedoman yang
sangat penting dan mengirimkannya ke jemaat-jemaat. Pedoman itu dikenal
dengan Surat Kiriman Rasul Paulus. Selain itu, Paulus juga memberi
perhatian khusus kepada mereka yang dianggap mampu memimpin jemaat
seperti Timotius, Titus dan sebagainya. Dengan demikian, istilah-istilah
yang disebutkan di atas muncul dalam kaitannya dengan pelayanan
jemaat-jemaat yang masih muda itu.
Sekilas tentang Sintua, Guru dan Pendeta di HKBP
5. Pada awalnya, Nommensen dan para misionar lainnya mengangkat
beberapa orang dari anggota jemaat menjadi “sintua” untuk mendampingi
mereka menjelajahi daerah-daerah di Tapanuli dan membantu mereka untuk
melayani jemaat yang kemudian terbantuk. Biasanya para penatuan dipilih
dari antara para raja di suatu tempat atau mereka yang dianggap sebagai
pemimpin di kampung tertentu. Oleh sebab itu, selain membantu pelayanan
juga diberi tanggung jawab untuk memikirkan perlu atau tidaknya suatu
sekolah didirikan di suatu kampung. Para penatua ini bertanggungjawab
mengurusi kemajuan pendidikan di kampungnya, mengupayakan dana
pendidikan yang diperlukan, membantu anak-anak orang miskin agar bisa
ikut sekolah, dan bahkan mengawasi pada waktu ujian. Di sekolah
anak-anak mempelajari Alkitab dan juga pelajaran umum.
6. Sesuai dengan pengamatan dan penilaian para misionar, beberapa
orang dari para anak-anak yang memperoleh pendidikan itu dipilih untuk
dididik menjadi “guru”. Pada tahun 1868 didirikan sekolah kateket di
Parausorat. Mata pelajaran adalah: Pengetahuan, Tafsiran dan Sejarah
Alkitab; Katekismus; Ilmu Bumi; Sejarah; Berhitung; Bernyanyi;
Pengetahuan Alam; Bahasa Jerman dan bahasa Melayu. Ada lima orang murid
pertama yang diterima dan dididik selama dua tahun. Setelah lulus mereka
ditugaskan untuk mengajar di sekolah-sekolah sekaligus melayani jemaat
(berkhotbah). Berhubung pusat pengaturan pemberitaan Injil sudah
bergeser dari Tapanuli Selatan ke Tapanuli Utata (Silindung) ada
berbagai kesulitan yang dihadapi untuk mengirimkan siswa ke Parau Sorat.
Nommensen bersama dengan Pemberita Injil lainnya bersepakat untuk
mendirikan Sekolah Mardalandalan di Silindung dengan memberikan mata
pelajaran yang sama dengan Sekolah Kateket Parau Sorat. Sekolah
Mardalandalan itu dimulai tahun 1874. Kemudian pada tahun 1877 Sekolah
Kateket di Parau Sorat dipindahkan ke Pansur Napitu. Walaupun fasilitas
masih sederhana, tetapi sekolah-sekolah dimaksud sangat bermanfaat dalam
percepatan penyiaran Berita Injil di Tapanuli. Perkembangannya lebih
siginifikan ketika Sekolah di Pansur Napitu itu dipindahkan ke Sipoholon
pada tahun 1901. Berhubung fasilitas semakin baik dan para gurunya
semakin banyak minat anggota Jemaat untuk menyekolahkan anak-anaknya ke
Sipoholon semakin besar.
7. Sejak tahun 1880 RMG sudah melihat perlunya mengangkat sejumlah
pendeta yang membantu para misionar melakukan tugas penginjilan. Para
guru yang dididik di sekolah kateket itu bertugas mengajar murid-murid
tentang Alkitab dan pengetahuan umum. Para pendeta diberi tugas khusus
untuk memimpin beberapa jemaat. Maka pada tahun 1884, Johannes Siregar,
Petrus Nasution dan Markus Siregar menerima pendidikan kependetaan di
Pansur Napitu. Mereka tamat dari Sekolah Kateket Parau Sorat. Kemudian
mereka bertiga ditahbiskan menjadi Pendeta tanggal 25 Juli 1885.
Menjadi Pelayan (termasuk Sintua) di HKBP
8. Sesuai dengan perkembangan HKBP, maka peraturan-peraturan untuk
menetapkan para pelayannya pun semakin diperbaiki. Jika pada awalnya,
peraturan itu lebih sederhana, tetapi berhubung perkembangan dan
perubahan masyarakat baik di tingkat local, nasional, regional dan
global maka dibutuhkan system dan perangkat yang lebih tepat untuk
menentukan dan menetapkan para pelayan di HKBP. Misalnya tentang pendeta
di HKBP. Pada awalnya, dipilih beberapa orang dari antara guru huria
yang sudah berpengalaman untuk dididik menjadi pendeta. Kemudian
didirikan Sekolah Pendeta di Sipoholon. Sejak tahun 1954 didirikan
Sekolah Teologi Menengah dan Fakultas Teologi di Pematang Siantar, dan
mereka yang sudah lulus dari SMP diterima menjadi mahasiwa Sekolah
Teologi Menengah dan yang lulus dari SMA diterima menjadi mahasiswa
Fakultas Teologi. Untuk menjadi pendeta telah terjadi beberapa
pengaturan yang baru. Setelah lulus dari Sekolah Teologi, pada umumnya
mereka diterima menjadi Pendeta tanpa harus melewati ujian penyaringan
dan melayani sebagai pendeta praktek. Tetapi akhir-akhir ini, tidak
otomotis semua lulusan Sekolah Teologi diterima menjadi Pendeta, ada
aturan yang berkaitan dengan Indeks Prestasi, kemudian setelah mengikuti
testing penerimaan dan lulus, mereka ditugaskan menjadi Calon Pendeta
selama dua tahun. Selama dua tahun mereka harus mengikuti LPP selama 3
kali sebelum ditahbiskan menjadi Pendeta. Maksudnya, ada perubahan
siginifikan (perbaikan system) untuk menjadi Pendeta.Tujuannya adalah
mempersiapkan mereka benar-benar menjadi pelayan yang mampu melayani
dengan baik. Demikian juga dengan pelayan-pelayan lainnya.
9. Tentang pemilihan Sintua sebenarnya HKBP telah memiliki peraturan
yang jelas. Dalam AP HKBP 20202 dijelaskan: Penatua adalah yang menerima
jabatan penatua dari HKBP melalui Pendeta Ressort sesuai dengan Agenda
HKBP. Berhubung pelayanan Sintua dibagi-bagi dalam lingkungan tertentu
(lunggu, wyik), maka biasanya pemilihan Sintua diawali dengan
kesepakatan anggota Jemaat HKBP yang ada di wyik tersebut yang memilih
satu atau dua orang dari antara mereka untuk diusulkan menjadi Calon
Sintua kepada Pendeta Ressort. Setelah melalui percakapan di Parhalado
maka usul dari Wyik itu diterima dan si calon diumumkan resmi menjadi
Calon Sintua di jemaat itu. Artinya, walaupun lingkup pelayanannya lebih
bersifat lunggu atau wyik tetapi setiap calon sintua (kemudian menjadi
sintua) melayani juga di dalam satu jemaat itu. Selanjutnya, Calon
Sintua mengikuti sermon-sermon Parhalado dan pembinaan khusus yang
dilakukan selama satu sampai dua tahun. Dalam masa-masa persiapan itu
Calon Sintua menerima pembinaan: (1). Mengenal perangkat-perangkat
pelayanan di HKBP, yakni: Bibel, Buku Ende, Agenda yang besar dan Kecil,
Katekismus, Konfesi, RPP, AP; (2). Mendalami Alkitab mulai dari
Kejadian sampai Wahyu; (3). Mendalami isi dari Konfesi dan RPP (4).
Mempelajari bagaimana berkhotbah, mulai dari persiapan hingga
penyampaian; (5). Mempelajari bagainana menjadi liturgis serta tata-cara
yang berkaitan dengan persiapan-persiapan yang dibutuhkan untuk itu.
10. Sesuai dengan perubahan tempat kediaman masyarakat kota,
belakangan ini pemilihan yang didasari pada system wyik di beberapa
jemaat HKBP semakin sulit. Anggota-anggota jemaat bertempat tinggal
secara tersebar di berbagai tempat, jauh dari jemaat di mana mereka
terdapat menjadi anggota tetapi tidak bersedia pindah ke jemaat HKBP
terdekat. Sesuai dengan AP HKBP 2002 ada beberapa syarat untuk menjadi
Sintua: (a) warga jemaat yang mempersembahkan dirinya menjadi penatua di
jemaat; (b). Rajin mengikuti kebaktian minggu dan perjamuan kudus; (c).
berperilaku tidak bercela; (d). Paling sedikit umurnya 25 tahun; (e).
sedikit-dikitnya berpendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama; (g).
Dipilih oleh warga jemaat dari antara mereka dan ditetapkan oleh Rapat
Pelayan Tahbis. Jika dibandingkan dengan 1 Timotius 3:1-7 ada penafsiran
baru tentang menjadi “sintua”, antara lain: “suami dari satu isteri;
seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati anak-anaknya.”
Sistem wyik atau lunggu juga tidak disebutkan.
11. Dalam AP HKBP dijelaskan, pelayan atau parhalado adalah warga
jemaat yang terpanggil dan terpilih untuk mempersembahkan dirinya dalam
melayankan pekerjaan pelayanan di tengah-tengah jemaat. Pelayan atau
parhalado terdiri dari pelayan tahbis dan pelayan non-tahbisan. Pelayan
tahbisan adalah pendeta, guru huria, bibelvrouw, diakones, evangelis dan
penatua. Pelayan non-tahbisadam ialah pengurus badan, yayasan, dewan,
seksi, guru sekolah minggu, organis, dirigent koor, panitia. Kemudian
dijelaskan juga pelayan atau parhalado penuh waktu dan pelayan atau
parhalado tidak penuh waktu. Dengan pengaturan seperti ini diharapkan
setiap pelayan dapat mengerti tugas dan tanggungjawabnya dan batas-batas
pelayanannya masing-masing.
Tugas Sintua (Penatua)
12. Untuk menjelaskan tugas sintua, dimulai dari apa yang tertulis dalam
AP HKBP 2002, yakni: (a) Sebagaimana tertera dalam Agenda Penahbisan
Penatua HKBP; (b). Melaksanakan baptisan darurat; (c). Menyusun
statistic warga jemaat di lingkungannya masing-masing; (d) mengikuti
sermon dan rapat penatua; (e). Menyampaikan berkat tanpa menumpangkan
tangan.
Di dalam Agenda HKBP tugas-tugas pokok pelayanan Penatua adalah sebagai
berikut: (a). Mereka adalah pelayan jemaat untuk mengamati anggota
anggota jemaat yang dipercayakan kepada mereka dan meneliti
perilakunya. Apabila mereka mengetahui seseorang tidak berperangai
yang baik, dia harus ditegor dan diberitahukan kepada guru jemaat dan
kepada Pendeta untuk dinasihati. Pangula ni Huria do nasida
mamatamatahon dongan angka na pinasahat tu nasida dohot mangaramoti
parangenasida. Molo diboto nasida, na hurang ture parange ni manang ise,
ingkon pinsangonnasida i, manang paboaonnasida tu Guru dohot tu
Pandita, asa dipature. (
(b). Mengajak anggota jemaat untuk datang beribadah dan meneliti
alasan-alasan orang orang yang tidak mengikutinya. Mandasdas donganta
tu parmingguan dohot manangkasi alana umbahen na so ro.
(c). Mengajak para anak sekolah untuk rajin bersekolah. Mandasdas anakboru sikola, asa
ondop ro.
(d) Mengunjungi orang sakit dan memberi bantuan sesuai dengan
kemampuannya, namun yang terpenting adalah mengingatkan mereka akan
Firman Allah dan mendoakannya. Maningkir angka na marsahit jala
paturehon na ringkot tu nasida dohot nasa na tarpatupasa, alai na
rumingkot, pasingothon Hata ni Debata tu nasida dohot tumangiangkonsa.
(e) Menghibur orang yang berdukacita, merawat orang yang susah dan orang
yang miskin. Mangapuli angka na marsak, paturehon angka na dangol dohot
na pogos.
(f) Membimbing penyembah berhala, orang sesat, supaya turut serta
memperoleh hidup dalam Yesus Kristus. Mangapuli angka sipelebegu, angka
parugamo na asing dohot angka na lilu, asa dohot marsaulihon hangoluan
na pinatupa ni Tuhan Jesus.
(g) Membantu pengumpulan Dana dan tugas pelayanan Kerajaan Allah.
Mangurupi paturehon angka guguan dohot ulaon na ringkot tu Harajaon ni
Debata.
13. Dengan memperhatikan tugas-tugas pokok pelayanan yang tertera
dalam Agenda itu, maka beberapa hal yang perlu lebih dipahami adalah:
(a). Sintua adalah gembala atau parmahan yang harus mengenal dengan baik
domba-domba Tuhan yang dipercayakan kepadanya. Seorang gembala harus
mengenal yang digembalainya dan domba-domba mendengar suara gembalanya
serta mengikutinya (Yoh.10:1-21).
Berkaitan dengan tugasnya sebagai gembala, penilik, simatamatai itu
Sintua harus mengetahui tata-gereja dan RPP HKBP. Etika Kristen
merupakan bagian dari muatan perelengkapan yang perlu diketahui oleh
Sintua, termasuk hal-hal yang menyangkut dengan nilai-nilai adat. Banyak
persoalan atau permasalahan yang harus dihadapi oleh manusia, apalagi
akhir-akhir ini. Oleh sebab itu, perkunjungan keluarga perlu
ditingkatkan. Para pelayan perlu bercakap-cakap dan berdoa bersama di
tengah-tengah keluarga. Umumnya, suami, isteri, dan anak-anak meyakini
sudah mendapat kekuatan baru ketika “parhalado” datang berdoa ke
rumahnya. Untuk kasus yang lebih khusus mungkin lebih baik
dikomunikasikan dengan Pendeta.
(b). Sintua adalah seorang komunikator sehingga dia dapat meyakinkan
anggota jemaat tentang makna ibadah dan perlunya orang Kristen
beribadah. Oleh sebab itu, Sintua menjadi teladan yang akan diikuti oleh
anggota jemaat. Jika seorang Sintua misalnya sering absen mengikuti
ibadah, bagaimana pula dengan anggota jemaatnya? Sintua perlu mengetahui
siapa-siapa saja dari anggota jemaatnya yang rajin dan yang malas
mengikuti ibadah minggu.
(c). Sintua adalah juga pemimpin yang menghendaki kemajuan generasi
muda. Oleh sebab seorang Sintua harus terpanggil untuk mendorong anggota
jemaatnya (yang muda, dalam Bahasa Batak disebut “anakboru”) agar rajin
bersekolah.
(d). Sintua juga mempunyai tanggungjawab untuk menjenguk orang sakit dan
menyampaikan Firman Tuhan kepada mereka yang membuat mereka
bersemangat. Semangat hidup akan sangat berguna untuk menolong orang
sakit cepat sembuh. Pada sisi lain, orang sakit juga harus diyakinkan
agar siap menghadapi segala sesuatu yang terjadi, termasuk kematian
serta yakin bahwa orang beriman akan menerima kehidupan yang kekal. Oleh
sebab itu, parhalado harus mengetahui Firman Tuhan yang tepat yang akan
disampaikan kepada orang sakit.
(e). Parhalado harus mempersiapkan dirinya dan memberi waktu untuk
menghibur orang-orang berduka. Mereka yang berduka sangat membutuhkan
kehadiran orang lain untuk bercakap-cakap. Sekalipun selama beberapa
saat orang berduka sulit menerima semua ucapan penghiburan, tetapi
kehadiran orang lain di rumahnya dapat menolong dia segera bangkit dari
suasana kepedihannya itu. Dia merasa tidak sendirian tetapi masih ada
orang-orang yang simpatik terhadap dia.
(f). Oleh karena membimbing penyembah berhala (mangapuli angka
sipelebegu) merupakan bagian dari tugas sintua, maka sintua perlu
mengetahui ajaran yang benar di dalam HKBP. Sebagai HKBP kita masih
memiliki pekerjaan rumah yang harus diteliti, dikerjakan dan
diselesaikan secara terus menerus, yakni hubungan antara Iman dengan
adat. Ada dua sikap ekstrim yang harus kita hadapi yakni: kelompok
ekstrim yang berusaha menolak dan menghapus semua adat dan budaya Batak;
dan kelompok ekstrim yang lebih menghormati adat ketimbang gereja. Kita
sebagai HKBP mengakui pentingnya adat dan budaya tetapi kita harus
mampu menolak setiap pelaksanaan adat yang bertentangan dengan iman dan
ajaran di HKBP. Adat merupakan warisan yang baik dan secara
berkelanjutan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Adat tidak
identik dengan agama sehingga tidak semua aspek dan nilai dalam adat itu
identik dengan ajaran agama.
(g). Parhalado atau sintua perlu mengenal potensi yang ada di wilayah
pelayanannya dan mengajak mereka untuk mengambil bagian dalam upaya
pembangunan jemaat dan pembiayaan progam. Parhalado melalukan penyadaran
kepada mereka agar bersedia menyumbangkan pikiran, hati, waktu dan
materi untuk pelayanan jemaat.
14. Berhubung memimpin liturgy (maragenda) dalam ibadah minggu dan
berkhotbah merupakan dua hal pokok yang langsung berkaitan dengan publik
(umum), kedua tugas pelayanan ini memerlukan percakapan yang lebih
khusus dan mendalam, terutama ketika seseorang sebagai calon Sintua yang
mengikuti masa “learning”. Tentang “maragenda” perlu dikatakan beberapa
hal:
a. Paragenda mempersiapkan diri dengan baik sesuai dengan pedoman dan
arahan yang diperoleh dalam sermon “parhalado”. Setiap orang yang akan
melayani pada hari Minggu berikutnya “harus hadir mengikuti sermon”.
Jika seorang Sintua yang sudah ditetapkan dalam roster tidak hadir dalam
sermon, dia diganti dengan orang lain.
b. Setelah berdoa, paragenda membaca dan mempelajari dengan baik semua
kata dari agenda di rumah, jika perlu berulang-ulang. Persiapan seperti
itu akan sangat berguna ketika paragenda memimpin liturgi ibadah minggu,
intonasinya pun akan lebih baik sehingga benar-benar sesuai dengan
maknanya. Ini terutama sangat penting bagi jemaat-jemaat kota di mana
sebagian Sintua sudah lebih banyak mempergunakan bahasa Indonesia.
c. Paragenda mempelajari semua “ende” atau “nyanyian” dalam ibadah itu.
Sekalipun sudah ada song leaders, paragenda perlu seirama dengan mereka.
Lebih khusus lagi, apabila song leaders berhalangan maka paragenda
sudah siap untuk memimpin nyanyian itu.
d. Ketika memasuki ibadah, paragenda harus benar-benar berdoa dan sesudah selesai melaksanakan tugasnya, paragenda harus berdoa.
e. Walaupun kelihatannya sepele, kesiapan “paragenda” juga ditunjukkan
dengan cara berdiri, raut wajah dan mungkin juga pakaian serta cara
memegang buku Agenda, cara mengambil buku Patik, Konfesi, Bibel dan
sebagainya untuk Patik dan cara mengambil Bibel untuk pembacaan Epsitel
dan meletakkankannya kembali. Semua ini diperhatikan anggota jemaat.
Berhubung di HKBP kata-kata liturgy atau ibadah sudah baku, maka banyak
anggota jemaat yang sudah mampu menghapalnya dan segera tahu kalau ada
yang salah. Oleh sebab itu, persiapan yang sungguh-sungguh sangat
diperlukan.
15. Berhubung Sintua dekat dengan anggota jemaat di lingkungannya,
sintua-lah yang bertanggung-jawab untuk melaksanakan pembaptisan darurat
(tardidi na hinipu) kepada anak kecil. Pembaptisan itu dilakukan tanpa
penumpangan tangan, sehingga jika anak kecil yang dibaptis sehat, dia
hanya menerima berkat penumpangan tangan dari pendeta. Dalam keadaan
terdesak, ketika sintua sulit menjangkau tempat keluarga tersebut
padahal sudah sangat kritis, seorang dewasa ataupun orang tuanya dengan
dilihat oleh beberapa orang saksi bisa melaksanakan pembaptisan darurat.
Tetapi segera sesudah sintua tiba di tempat itu, orang tua anak atau
keluarga harus melaporkannya kepada Sintua.
16. Sintua juga bertanggungjawab untuk meminta setiap keluarga untuk
membuat data-data keluarganya dan kemudian mengumpulkan statistic itu
dan melaporkannya kepada Guru Huria atau Pendeta sehingga menjadi
dokumen yang resmi. Oleh sebab itu, semua sintua harus menghadiri
sermon parhalado, di mana mereka perlu membicarakan hal-hal yang
berkaitan dengan jemaat.