PASKAH II, 6
APRIL 2026
(PESTA PADUAHON PARNINGOTAN ARI HAHEHEON NI TUHAN JESUS) DIPAHEHE DEBATA ANGKA NA MATE
TUHAN MEMBANGKITKAN ORANG MATI YESAYA 26 : 17 – 19
PENDAHULUAN
Kerajaan Yehuda ( selatan) dan Israel ( utara ) mengalami konflik
semenjak meniggalnya Raja Salomo yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya yaitu
Rehabeam. Pada saat itu, Rehabeam menolak untuk menurunkan pajak sehingga
banyak suku menentang dan terjadilah perpecahan. Kemudian Israel terbagi dua
yaitu Kerajaan Yehuda ( selatan ) yang dipimpin oleh Rehabeam dan Kerajaan
Israel (Utara ) dipimpin oleh Yerobeam bin Nebat. Pada masa ini Kerajaan Utara
dan Selatan masih dalam suasana peperangan.
Nabi Yesaya hadir melayani di tengah bangsa Yehuda pada masa Raja Uzia,
Yotam, Ahas dan Hizkia secara
turun temurun. Mulai dari jaman uzia dan Yotam mereka terkenal akan kebaikan dan
kesetiaan mereka kepada Tuhan serta segala upaya yang mereka lakukan demi
perkembangan bangsa Yehuda namun dilanjutkan dengan kepemimpinan Ahas terjadi
kemerosotan moral dan spirtualitas. Demi dapat dukungan politik melawan
bangsa Israel, Ahas bekerja sama dengan Bangsa Asyur dengan
bayaran mahal dan membiarkan kepercayaan agama mereka masuk dan
menguasai bangsa Yehuda. Namun, hal itu menjadi
kesempatan bagi bangsa
Asyur untuk menguasai
bangsa Yehuda dan bangsa itu pun takluk dibawah kekuasaan Asyur. Pada
Akhirnya, bangsa Yehuda kembali menderita dan dijajah kembali oleh bangsa lain
yang menginginkan kehancuran mereka. Pada saat itulah
Yehuda kembali berseru
kepada Tuhan menantikan pertolongan dari Tuhan.
PENJELASAN NAS
Pada Pasal yang ke – 26 merupakan kesaksian dari berbaliknya bangsa
Yehuda kepada Tuhan. Hal ini terlihat dari ucapan
syukur Bangsa Yehuda karena keselamatan dan penghakiman yang diberikan Allah
kepada musuh bangsa tersebut serta pemulihan Allah bagi bangsa Yehuda. Tuhan
mendengar seruan mereka dan menaklukkan musuh musuh mereka. Tuhan memberikan
hukuman terhadap musuh mereka dan memulihkan bangsa Yehuda kembali. Dalam karya
seruan dan pujian ini menunjukkan pengakuan iman bangsa tersebut atas kuasa
Tuhan dalam hidup umatnya.
Pada ayat 17 - 18, menjelaskan gambaran Yehuda ketika
menghadapi kesusahan dan penderitaan dalam hidupnya. “Seperti
seorang perempuan yang hendak melahirkan“ menggambarkan perasaan yang
tak terkatakan dimana seseorang merasakan sakit yang luar biasa,
ia harus bertahan
dalam rasa sakit itu beberapa
lama dan mempertaruhan
nyawa untuk
mendapatkan sesuai yang didambakan. Hal ini menunjukkan perjuangan seseorang
terhadap suatu hal namun harus melalui
rasa sakit yang hebat. Namun, semua
itu tidak akan tercapai jika tidak ada pengharapan dan campur tangan Tuhan yang
menjadi sumber kekuatan dan memampukan setiap prosesnya sampai ketujuan. Namun
bangsa Yehuda sering sekali melakukan sebaliknya, mereka sering
berbuat sesuatu tanpa melibatkan Tuhan. Alhasil, tujuan
mereka awalnya bekerja sama dengan bangsa lain supaya memperoleh kemakmuran dan kesejahteran justru sebaliknya menjadi
sia sia dan merugikan mereka. Hal ini menjadi pelajaran bahwa
pentingnya untuk berbalik dan mencari Tuhan disaat membutuhkan Tuhan dan tidak
mengandalkan diri sendiri akan tetapi mengandalkan kuasa Tuhan dalam hidup
umat-Nya.
Ayat 19, merupakan doa dan harapan yang disampaikan Yehuda kepada
Tuhan. mereka menyadari betapa
rapuhnya mereka tanpa
Tuhan disisi mereka.
Gambaran orang –orang mati dan mayat itu adalah mereka
yang hidup dalam
keputusasaan. Pada ayat ini
umat Allah mengajak seluruh orang yang mengalami keputusasaan untuk bangkit dan
memuji Allah karena kuasaNya yang besar. Disaat kegagalan dan penderitaan itu terjadi
akibat perbuatan manusia
itu sendiri namun tanganlah Allah justru turun bertindak dalam hidup mereka yang menunjukkan batapa Allah sangat
mengasihi umat-Nya. Kasih Allah
diibaratkan seperti “Embun (Embun Terang)” melambangkan kehidupan yang memberi
kesejukan dan kesegaran terhadap jiwa yang kering, letih, lesu dan tidak
memiliki harapan. Allah hadir memberikan kesegaran
bagi jiwa yang sengsara. Menjanjikan damai sejahtera dan membawa umat-Nya dalam kebahagiaan sejati.
Dalam ajakan ini, ada semangat baru dan harapan baru, bahwa segala sesuatu yang
terjadi di masa lalu akan/telah berlalu dan manusia perlu menatap masa depan yang baru dengan
Tuhan yang jadi sumber
kekuatan dan damai sejahtera. Artinya,
dalam hidup yang baru dan semangat
yang baru adanya keyakinan jika manusia berjalan bersama dengan Tuhan maka ada
kehidupan bagi umat yang dikasihi-Nya. Untuk itu, sertakan Tuhan selalu dalam
segala tindakan dan tingkah laku umat manusia.
PENUTUP
Orang percaya juga mengalami penderitaan dalam hidup yang membuat
seseorang merasakan kepahitan, kekecewaan, sakit dan ketidakterimaan atas yang terjadi dalam hidupnya. Anggaplah itu
menjadi bagian dari proses untuk hidup lebih baik kedepan. Meskipun
rasa sakit penderitaan itu nyata dan sangat berat
sehingga sulit untuk diterima oleh manusia. Namun,
dibalik penderitaan itu bisa jadi tanda bahwa Tuhan sedang mempersiapkan
sesuatu yang baru dalam hidup manusia. Ingatlah selalu bahwa umat manusia
selalu memiliki keterbatasan baik secara fisik dan mental. Dengan keterbatasan
itu, manusia tidak mampu menghasilkan keselamatannya sendiri. Disaat itulah
manusia harus menyadari bahwa dalam keterbatasan kita membutuhkan Tuhan yang Mahakuasa untuk memperlengkapi dan memampukan kita.
Inilah bukit pengakuan
kita akan
keberadaan dan posisi Tuhan dalam hidup kita, sehingga timbul pengharapan
manusia selama hidup dalam dunia.
Ketika seseorang memiliki
pengharapan maka kuasa Tuhan dan kebangkitan akan terjadi
dalam hidupnya. Maka dari itu, Harapan umat manusia tidak berakhir dalam
penderitaan justru jadi penguat iman dan mendewasakan iman untuk lanjut dalam level yang lebih tinggi lagi dan jadi manusia
yang lebih beriman lagi didalam Tuhan. didalam
kehidupan yang penuh penderitaan ini, tetap berseru
kepada Tuhan dan andalkan
kekuatanNya. Percayalah bahwa Tuhan mampu
mengubah keadaan yang mati
menjadi hidup dan memulihkan hidup manusia.
Peristiwa
hari kebangkitan Yesus dalam dunia ini pun menjadi suatu sukacita bagi umat
manusia. KebangkitanNya menunjukkan kehidupan baru dan menciptakan harapan yang
besar bagi umat percaya bahwa tidak ada satu pun yang dapat mengalahkanNya,
justru Dialah yang menguasai segala sesuatunya. Begitupun hidup umat manusia
yang meletakkan hidupnya
dalam Dia, meskipun
hidup penuh derita
tetapi tidak ada penderitaan/kesusahan yang lebih besar dan hebat dari
Tuhan Yesus. Yesus mampu mengalahkan maut, maka Yesus juga mampu mengalahkan
segala penderitaan kita dan memulihkan kita. Maka dari itu, serahkan selalu
hidup didalam Tuhan dan hiduplah dalam pengharapan dan iman yang teguh
sepanjang hidup kita bahwa apapun yang terjadi selalu ada hal baik yang Tuhan
sediakan bagi kita.
CDiak Sartika Br Siahaan, S.Ag /Sion Bukit
Horas KM 76
Tidak ada komentar:
Posting Komentar